Rangkaian Kegiatan Acara Puncak Tema Budaya TKIT Baitussalam

 

Uraian Rangkaian Kegiatan  Acara Puncak Tema Budaya TKIT Baitussalam, Kamis, 19 April 2018 di GOR Baitussalam kemarin  :

Para Walisongo adalah para pendakwah Islam awal yang masuk di Indonesia, khususnya di wilayah Jawa. Pada saat itu, mayoritas penduduk beraliran animisme dinamisme dengan tradisi budaya yang berkembang saat itu. Maka Walisongo mengembangkan dakwah Islam dengan cara Rasululloh yang berdakwah dengan cara yang baik. Sehingga masuklah mereka ke dalam budaya setempat, diantaranya : wayang, gamelan, pakaian tradisional dan adat istiadat yang dipadukan dengan nilai – nilai Islam.

Islam sebagai agama yang mengajarkan Rahmatan lil ‘aaliamiin, mencoba masuk melalui budaya setempat yang akhirnya berkembang menjadi budaya yang ada hingga saat ini.

Diantara Rangkaian Kegiatan  Acara Puncak Tema Budaya TKIT Baitussalam kemarin adalah   :

  1. Kirab adalah proses berjalan iring-iringan bersama – sama untuk menunjukkan Islam itu kuat, rapi, tertib dan indah jika bersatu/bersama

 

  1. Peragaan Busana : menunjukkan aneka pakaian adat jogja, yang awalnya adalah basahan kemudian Islam masuk di Jogja dengan pakaian adat yang lebih Islami dan menutup aurot. Ada blangkon di kepala , surjan / baju lurik panjang dan beskap / baju yang memakai keris ( tanda siap berperang melawan penjajah ) serta  jarik panjang untuk laki – laki maupun perempuan.

 

  1. Pagelaran Wayang : proses dakwah Islam Walisongo terdahulu menggunakan adat wayang untuk menyampaikan pesan – pesan kebaikan lewat materi yang disampaikan oleh dalang. Kesempatan kali ini, dihadirkan dalang cilik Ki Bagus Rama ( Yudhistira Ardiansyah, Siswa kelas IV SDIT Baitussalam Prambanan ) .

 

  1. Kembul Bujono adalah kebiasaan kekeluargaan untuk makan bersama agar lebih akrab dengan keluarga, karena anggota keluarga banyak maka makan bersama sangat bermanfaat untuk kedekatan hubungan Kekeluargaan. Untuk makan bersama dalam rangka keakraban sesuai dengan sunnah Rosul disamping itu juga makan dengan duduk dan menggunakan tangan (kanan) serta dalam posisi dekat sehingga dapat mengambil yang dekat. Makanan tidaklah harus berupa nasi kuning dan diatas daun pisang.

 

  1. Tumpeng : Nasi yang dihidangkan dengan aneka bentuk agar rapi dan indah, tidak memakan tempat yang banyak jika disajikan. Esensi makan tumpeng adalah kebersamaan, bukan nasinya yang harus berbentuk tumpeng. Bukan pula untuk sesaji dan tidak harus berbentuk kerucut.

 

  1. Gunungan adalah tumpukan hasil bumi yang dibawa untuk shodaqoh kepada rakyat yang dilakukan oleh sultan dalam rangka dibagi2 kepada rakyat, untuk membawanya agar lebih mudah maka disusun dengan ditumpuk ke atas. Mengingat zaman dulu belum ada mobil untuk mengangkut hasil bumi yang akan dibagi.

Tidak  harus membentuk gunungan, esensinya adalah shodaqoh untuk rakyat ( orang lain ), bukan gunungannya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*